Selama Seribu Tahun Terus Diburu dan Dibantai Ikan Paus Terancam Punah

Posted on Updated on

“Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka inni kuntu minadh dhaalimin” (Tidak ada Tuhan yang benar disembah, hanya Engkaulah ya Allah, Maha Suci Engkau, aku adalah orang yang selalu berbuat zalim pada diriku).

Begitulah Nabi Yunus a.s. bermunajat selama tiga hari tiga malam dalam perut ikan nun dalam kegelapan malam di kedalaman lautan. Ia dilemparkan ke laut oleh para penumpang kapal karena dianggap orang pembawa sial akibat terjadinya badai di lautan yang memprorakporandakan seluruh isi kapal. Atas kehendak Allah SWT, seekor ikan nun datang menyelamatkannya dengan cara menyambar dan menelan Yunus ke dalam perutnya. Dan akhirnya atas kehendak Allah, pada hari ketiga ia dimuntahkan ke daratan. Subhanallah!

Nun adalah Ikan besar yang menyelamatkan Nabi Yunus a.s. Menurut tafsir para ulama, nun diduga sejenis ikan paus biru. Ikan raksasa jenis ini sudah hidup beribu-ribu tahun jadi penghuni samudra bebas di seluruh dunia. Sebagai perbandingan untuk melihat betapa besarnya ikan paus dewasa, panjang tubuhnya rata-rata antara 36-60 meter, lebar tubuh depan antara 20-25 meter. Sementara berat massa badannya diperkirakan 180 ton. Para nelayan maupun ilmuwan mengalami kesulitan pada penimbangan berat badan karena tidak ada timbangan yang mampu menimbang langsung tubuhnya yang cukup besar.

Berat badan paus jauh lebih berat dibandingkan dengan seekor dinosaurus yang hidup di era Mesozoik yang beratnya hanya sekitar 60 ton. Ikan ini sekali makan per hari membutuhkan ikan krill ( ikan kecil ) sebanyak 90 ton.Pertumbuhan populasinya sangat lambat karena untuk melahirkan membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun, sedangkan masa kebuntingannya berbeda beberapa bulan dengan manusia. Bila manusia dan binatang darat mengandung anak rata-rata sembilan bulan, ikan paus lebih dari satu tahun.

Berat anak yang dilahirkan antara 2,5-3 ton, dengan panjang tubuh sekitar tujuh meter. Berat lidah paus dewasa 2.700 kilogram sedangkan lidah anaknya sekitar 550 kilogram. Kemampuan tumbuh anaknya sangat cepat, dengan daily gain antara 90-100 kilogram per hari. Dia akan disapih pada umur tujuh bulan. Selama dalam pengasuhan, anak paus itu minum susu induknya sebanyak 500 liter sehari. Hingga dewasa tidak ada predator yang spesifik, namun ada ikan sejenisnya yang selalu menyerang dan melukai kelompok paus biru, yaitu paus yang disebut “paus pembunuh”. Ikan paus ini tidak bernapas dengan insang seperti lazimnya ikan, namun menggunakan paru-paru yang memiliki 70 lempengan.

Menurut penelitian para ahli kelautan, hampir 25 persen ikan paus biru dewasa dipastikan ada luka bekas gigitan paus pembunuh itu. Namun penyerangan dari paus pembunuh tidak menjadikan paus biru jadi santapannya, tetapi hanya menyerang untuk mengganggu, seperti perkelahian antara kucing jantan atau anjing jantan. Selama beribu-ribu tahun, ikan paus benar-benar jadi raja di lautan, terkonsentrasi penuh di habitatnya, yaitu Laut Antartika dekat kutub utara. Menurut para ahli, sekitar 60 % populasinya di lautan yang daratannya diselimuti es.

**

Bahasan lain yang kini jadi perhatian para ahli lingkungan dunia adalah, kehawatiran mereka tentang kemungkinan punahnya ikan raksasa ini karena pembantaian dan memburuknya habitat hidup mereka. Hal ini terjadi terutama dalam lima puluh tahun terahir di seluruh dunia, baik di daerah dingin maupun lautan tropis. Sebagai gambaran, kita bisa melihat dari data terakhir yang disampaikan oleh Komisi Perpausan Internasional (KPI) yang bermarkas di Geneva.

Pada hakikatnya, ikan paus biru tidak mudah ditangkap atau dibunuh. Kecepatan, kegesitan, dan kekuatan mereka diakui oleh para nelayan pemburu ikan paus dunia. Dalam keadaan terkejut, panik, atau ketakutan, ia bisa memacu kecepataan berenangnya hingga 60 km/jam . Tidak jarang dalam suatu perburuan, ikan paus yang panik akan berbalik menabrakan dirinya ke perahu atau mengibaskan ekornya hingga kapal kecil bisa hancur berkeping-keping hingga mengambil korban jiwa pemburunya.

Pemburu akan segera mengubah target buruannya ke jenis paus sperma atau paus sikat bila keadaan memburuk akibat buruannya panik. Tahun 1864, Svend Foyn, orang Norwegia pertama dalam sejarah yang memburu dan membantai ikan paus. Selama beberapa bulan sebelum melakukan niatnya, ia merancang sebuah kapal uap yang dilengkapi dengan harpun yang dapat melumpuhkan paus berukuran besar. Meskipun pada awalnya kesulitan dan tingkat keberhasilannya rendah, Foyn kemudian menyempurnakan senjata harpunnya dan kemudian sukses dalam perburuannya.

Selanjutnya paus biru kemudian menjadi objek buruan utama di berbagai negara lautan karena ukurannya yang besar dan dagingnya mengandung banyak lemak ikan tak jenuh. Beberapa negara pemburu di antaranya adalah Islandia (1883), Kepulauan Faroe (1894), Newfoundland (1898), dan Spitsbergen (1903). Tahun 1904-1905, paus biru pertama tertangkap di Georgia Selatan. Pada 1925, jumlah perburuan meningkat tajam. Lebih dari 200 ekor paus setiap hari dibantai para pemburunya. Kini sifat penangkapan paus biru dan paus balin seperti jadi sebuah kebutuhan. Bahkan negara-negara di gugusan Laut Antartika dan sub-Antartika, perburuan mulai meningkat tajam. Antara 1930 dan 1931 saja, ada sejumlah kapal-kapal pemburu yang mampu membunuh 29.400 paus biru sendirian.

Dengan berakhirnya Perang Dunia II, populasi ikan paus secara besar-besaran benar-benar dikuras habis. Tahun 1946, “Traktat Pertama” yang intinya membatasi perdagangan internasional untuk paus diperkenalkan. Namun hal tersebut tidak efektif karena ketiadaan pembedaan setiap spesies menjadikan negara-negara pantai kebingungan. Oleh karena ketidakjelasan spesies itulah, akhirnya spesies langka pun diburu.

Perburuan paus biru dikecam pada tahun 1960-an oleh Komisi Perpausan Internasional (KPI ), dan mengeluarkan “Traktat Kedua”, yang secara tegas melarang perburuan paus besar-besaran secara ilegal oleh USSR ( Rusia sekarang ). Akhirnya karena dua traktat sebelumnya tidak dihiraukan, diturunkanlah “Traktat Ketiga” pada tahun 1970-an, disertai sanksi yang cukup keras, sehingga negara-negara pantai mulai memperhatikan.

**

Sebelum turun “Traktat Ketiga”, negara-negara Skandinavia telah melakukan pembantaian paus secara besar-besaran. Menurut catatan KPI, tidak kurang dari 330.000 paus biru dibunuh di Antartika, 33.000 ekor di belahan laut selatan, 8.200 ekor di Pasifik utara, dan 7.000 ekor di Atlantik utara. Dalam penelitian terahir, pada pertengahan 2009 perburuan paus ternyata meningkat lagi setelah agak reda. Hal ini terjadi karena dikaitkan dengan kebutuhan bahan baku industri perikanan.

Dengan meningkatnya kemampuan teknologi, kini paus telah jadi bahan baku utama yang diperdagangkan secara komersial. . Bila harga ikan laut per kilogramnya rata rata Rp 20.000.-/kg, untuk fillet ikan paus harganya bisa mencapai Rp 50.000/kg, nyaris sama dengan satu kilogram daging sapi.

Negara-negara Skandinavia yang mulai reda memburu ikan paus, kini tampak mulai goyah lagi karena nilai ekonomis seekor ikan paus tinggi sekali. Jepang, Cina, dan Hongkong kini jadi negara pengimpor fillet ikan paus terbesar di dunia.

Melihat kenyataan ini, semua terpulih kepada para pemburu ikan paus dan kebijakan negara untuk mencari bahan baku pengganti. Menurut data terahir hingga ahir Mei 2009, tercatat tinggal 5.000 ekor saja di sentra-sentra paus dunia.

sumber : Pikiran Rakyat, 15 Oktober 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s