Dari Pengecer Ikan Kini Jadi Pengusaha Besar

Posted on

H Usman, Dari Pengecer Ikan Kini Jadi Pengusaha Besar Beromzet Rp 100 Juta per Malam, Rambah Bisnis Kelapa Sawit

Merintis karier sebagai pengecer ikan, kini H Usman menjadi pengusaha besar perikanan. Sukses di usaha perikanan, dia kemudian “menyeberang” ke usaha perkebunan kelapa sawit. Karena kesuksesannya, Pemkot Samarinda dan Dinas Perikanan Samarinda mengusulkan warga Samarinda Seberang ini sebagai pengusaha perikanan teladan untuk tingkat Kaltim dan nasional.

Di saat warga terlelap, pada pukul 01.00 Wita, Usman sudah mangkal di di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Selili, Jl Lumba-lumba, Samarinda Ilir. Bersama sang istri, Hj Tendri, pria berusia 38 tahun ini terlihat sibuk mengatur ikan-ikan yang diangkut para anak buahnya. Setelah semua ikan terkumpul, warga Jl Sutra Murni Kelurahan Baqa, Samarinda Seberang ini duduk di mejanya, menunggu para pengecer dan pedagang pengumpul yang rutin mengambil ikan.

Malam itu, ada 4 kapal Usman yang berlabuh dan membawa sekitar 10 ton ikan. Di antaranya ikan tongkol, layang, dan gembung. Ikan ini diperoleh dari nelayan-nelayan di perairan Selat Makassar hingga ke wilayah Sulawesi. Tiap malam Usman menjual 10 hingga 20 ton ikan. Ikan-ikan yang dijualnya bukan hanya dibeli oleh pedagang Samarinda, melainkan juga Tenggarong, Bontang, Balikpapan, bahkan hingga Sengata.

“Di Balikpapan dan Bontang sebenarnya juga ada PPI, tapi pedagang ikan dari sana ada juga yang mengambil ikan dari sini. Mereka membawanya puluhan kilo dengan mobil pikap,” papar Usman kepada Kaltim Post. Kapal-kapal pengangkut ikan asal Balikpapan dan Bontang tambahnya, juga ada yang suka menurunkan ikannya di PPI Samarinda ketimbang di kota asalnya.

Dia menuturkan, pedagang dan kapal asal Balikpapan dan Bontang, membeli di Samarinda selain karena pertimbangan harga, juga karena kemudahan yang diberikan pengusaha ikan. “Di sini mereka (para pedagang/pengecer ikan, Red.) hanya tinggal tunjuk. Kami yang mengurus pengangkutan dan lain-lainnya. Pokoknya mereka tinggal terima beres. Ini yang membuat mereka merasa lebih nyaman,” ujar bapak tiga anak tersebut.

Dari bisnis ini, setiap malam Usman bisa memperoleh omzet Rp 100 juta. Modal usaha ini memang juga besar. “Paling tidak harus siapkan uang ratusan juta,” ujarnya. Dia mencontohkan, keranjang ikan yang harus dimiliki pengusaha minimal 500 buah. Bila harga satu keranjang Rp 65 ribu katanya, berarti harus menyiapkan Rp 32,5 juta. Itu baru keranjang ikan, belum lagi biaya pembelian ikan dari nelayan, upah tenaga kerja, dan lainnya.

Dia mengatakan, anak buahnya yang membeli ikan pada nelayan di laut lepas, paling tidak harus membawa uang puluhan bahkan ratusan juta. Ada pula yang tak membawa uang dan hanya bermodalkan kepercayaan. Mereka mengambil ikan dan berjanji akan membayar pada hari-hari berikutnya ketika akan mengambil ikan kembali. “Bisnis seperti ini memang jarang menggunakan tanda-tanda pembayaran. Lebih banyak pada kepercayaan sesama pedagang,” ujar lelaki kelahiran Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Usman memang paham benar soal bisnis di bidang perikanan ini. Bapaknya adalah seorang nelayan. Dia meninggalkan kampung halamannya, Sulawesi dan mempertaruhkan hidup di Samarinda mulai tahun 1976. Pada tahun 1982 dia menjadi pengecer ikan ke pasar-pasar. Waktu itu PPI bukan di Selili, melainkan di Samarinda Seberang dan namanya pun masih Tempat Penampungan Ikan (TPI) atau satu tingkat di bawah PPI.

Lama-kelamaan usaha Usman kian maju. Dia kemudian belajar menjadi penyalur ikan mulai tahun 1993. Saat itu PPI sudah dipindah di Selili. Usman mendapat satu tempat di lokasi yang baru ini. Usahanya terus tumbuh hingga kini beromzet Rp 100 juta dalam semalam. Usman kini memiliki puluhan unit kapal penangkap dan pengumpul ikan. Kapal-kapal ini silih berganti datang membawa ikan-ikan segar.

Dari hanya mempunyai beberapa anak buah, Usman kini juga memiliki sekitar 60 anak buah. Di antaranya ada yang bekerja sebagai buruh sampai sebagai kasir. Mereka diupah harian. Untuk posisi yang tinggi digaji Rp 4-5 juta sehari.  Dia juga menambahkan, tak ada patokan tetap atas upah pekerjanya, karena tergantung tangkapan ikan. “Bila tangkapan ikan sedikit, upah mereka juga berkurang,” ujarnya.

Namun katanya, mereka tak bekerja penuh satu bulan. Ada waktu liburnya, yaitu ketika tangkapan ikan tak banyak. “Biasanya terjadi saat bulan purnama atau pertengahan bulan. Liburnya biasanya 3 hari,” ujar Usman. Bila ada masa tangkapan ikan sepi, ada pula masa tangkapan membeludak. “Bila sampai tangkapan lebih 40 ton, harga ikan bisa dipastikan akan jatuh,” ujarnya.

Selain untuk pasar lokal, Usman juga memasok untuk perusahaan perikanan, baik dalam kondisi segar maupun sebagai bahan baku utama ekspor produk tangkapan ikan serta pengolahan ikan berskala nasional. Dia berharap bisa terus konsisten menjalankan usahanya hingga bisa diwariskan pada anak dan cucunya.

Sementara Kepala PPI Selili Abdul Samad mengatakan, di PPI Selili ada 4 pengusaha ikan yang besar. Juga ada 10 pengusaha ikan sedang. Di antara 4 pengusaha besar, Usman yang dinilai bisa menjalankan usahanya dengan baik. Tak heran bila dia kemudian diusulkan sebagai pengusaha perikanan tangkap teladan. “Pak Usman dinilai bisa menjalankan usahanya dengan baik. Bahkan kini dia sudah mempunyai usaha perkebunan kelapa sawit seluas 100 hektare di Sebulu, Kukar,” ujarnya.

Kepala Seksi Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Samarinda Ambo Tang juga membenarkan hal itu. Dia mengatakan, ada beberapa pertimbangan Usman diusulkan menerima penghargaan Adi Bakti Mina Bahari bidang perikanan tangkap, khusus sebagai pengusaha perikanan tangkap teladan. Di antaranya terkait dengan omzet dan kelayakan usahanya. “Kami sudah mengusulkan Pak Usman ke tingkat provinsi. Bila lolos, Usman akan menjadi wakil Kaltim di tingkat nasional,” ujar Ambo.

Ambo mengatakan, Samarinda memang tak memiliki sungai. Namun pendaratan ikan di PPI ini bisa mengalahkan Balikpapan dan Bontang. PPI Selili yang masuk tipe D katanya, tiap malam bisa mendaratkan 40 ton ikan. Tak heran bila usaha di tempat ini bisa berkembang baik.

Sumber : kaltimpost.

 

3 thoughts on “Dari Pengecer Ikan Kini Jadi Pengusaha Besar

    H.ASHAR said:
    22 September 2011 pukul 6:22 am

    sy pengusaha ikan rencana cari mitra di kaltim untuk pasaran ikan tangkapan nelayan sy, ??????????????

    H.ASHAR said:
    22 September 2011 pukul 6:26 am

    kami py 4 kapal perse seine (lampara) yg beroperasi di kendari selama ini kami pasarkn d daerah mks n sktarx ????????

    H.ASHAR said:
    22 September 2011 pukul 6:30 am

    klu bs no hpx Pak H.Usman atw orng yg d percayakan bs hub k no hp sy 081 242 875 660 H.Ashar ??????tks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s