Produksi Benih Rendah, Tetap Untung

Posted on Updated on

Meski tingkat keberhasilan hidup benih kerapu hanya sekitar 10%, usaha pembenihan komoditas ikan laut ini masih menguntungkan

Geliat permintaan pasar lokal dan internasional terhadap ikan kerapa kini kian meningkat. Salah satu ukurannya adalah harga jual ikan karang ini yang semakin tinggi. Bayangkan, satu kg ikan kerapu bebek atau tikus ukuran konsumsi ( sekitar 500 gram per ekor) di tingkat pembudidaya harganya sampai US$ 48 – $ 52 per kg. Untuk kerapu macan, harganya Rp 90 – 130 ribu per kg.
Meski harga komoditas ikan laut itu sangat menggiurkan, namun perkembangan usaha budidaya ikan kerapu di Indonesisa masih kurang berkembang. Menurut Peneliti kerapu dari Balai Layanan Umum Perikanan Budidaya Karawang Jawa Barat, Muh Abdul Rahman, teknologi pembenihan untuk ikan kerapu secara massal baru berkembang dalam lima belas tahun terakhir. “Masih banyak hal yang belum dikuasai tentang teknologinya,” kata Rahman.
Lebih lanjut Lulusan Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut berpendapat, teknologi pembenihan bukan menjadi masalah utama para pembudidaya kerap benih. Persoalan yang kerap muncul adalah kestabilan penjualan baik dari sisi jumlah serapan benih yang rendah maupun harga jualnya yang terus menurun. “Awal 2010 harga benih kerapu macan berkisar Rp 1.100 per ekor, tetapi saat ini hanya berkisar Rp 700 per ekor,” sebut Rahman.
Dia menilai, hal tersebut terjadi karena perkembangan pembenihan tidak diimbangi perkembangan pembesarannya. Akibatnya terkadang banyak benih yang dihasilkan oleh masyakat tidak mampu terserap oleh pembudidaya.
Ikut berpendapat soal kendala diungkapkan oleh Ketua Forum Komunikasi Kerapu Lampung, Bangun Sitepu. Bagi Bangun, kendala utama pembenih kerapu adalah modal operasional dalam usaha budidayanya yang tergolong tinggi. Menurutnya, pihak perbankan sangat “hati-hati” dalam memberikan kredit bagi pembenih.
Bangun menilai, ada anggapan bahwa pembudidaya ikan disamakan dengan nelayan yang selalu dibantu sehingga tidak ada feed back (timbal balik) bagi perbankan. “Sebenarnya satu hal yang harus diingat, orang yang tidak punya modal tidak mungkin dia menjadi pembudidaya kerapu, karena umumnya yang bermain di kerapu punya sumber penghasilan lain,” jelasnya dengan tegas.
Dari sini Bangun mengharapkan ada terobosan perbankan masuk, karena peluang usaha masih cukup besar. “Sekarang saja umumnya pembudidaya pembesaran kerapu hanya mengisi 40% dari jumlah petakan Keramba Jaring Apung (KJA) dan 60% masih kosong,” ucapnya.

Produksi Rendah
Tak hanya pembenih yang merasakan kekurangan modal, pembudidaya pembesaran juga merasakan hal serupa. Ini dikemukakan oleh Ahmad Haerudin, pembudidaya kerpau di Pulau Panggang Kabupaten Kepulauan Seribu Jakarta. Masalah lainnya adalah pasokan benih yang masih kurang.
Kondisi ini pun diakui oleh Rahman. Dia menilai penyebab rendahnya produksi benih ikan kerapu dari hatchery (unit pembenihan) antara lain karena sifat kanibal yang banyak terjadi pada stadia juvenil (pasca pemeliharan larva) sampai menjadi benih siap tebar.
Selain itu, lanjut Rahman, SR (Survival Rate/tingkat kelangsungan hidup) ikan kerapu di hatchery (unit pembenihan) juga lebih rendah dibandingkan sewaktu di pembesaran, karena rentan terhadap perubahan lingkungan. “Ditambah lagi dengan penguasaan teknologi pembenihan yang belum benar-benar mantap,” ujarnya.
Rahman menjelaskan, saat ini umumnya pembenihan kerapu bebek dan macan rata-rata SR sekitar 10% per siklus. Meski SR pembenihan kerapu rendah, tapi tetap menguntungkan (lihat tabel analisa usaha).
Hal senada dikatakan Bangun. “SR di hatchery lebih rendah dibandingkan pembesaran karena banyak faktor, seperti ikan masih kecil, kualitas pakan harus baik, daya tahannya masih kurang, sehingga mudah terkena kematian,” ucapnya
Ia mencontohkan, dalam bak volume 10 ton diisi telur 100.000 butir, bisa selamat 2 – 5% dari total telur yang menetas saja sudah bagus sekali. “Malah kadang-kadang gagal semua, oleh karena itu perlu perhitungan yang matang dari teknisi,” imbuh lelaki yang baru merintis usaha pembenihan kerpu di awal 2010 ini.
Bangun menambahkan, secara umum persoalan benih kerapu ini tak sesulit dulu. “Di wilayah Indonesia Timur sekarang sudah banyak hatchery. Tidak seperti dulu, hanya Situbondo Jawa Timur dan Bali saja,” ujar Bangun. Menurut Rahman, untuk Situbondo dan Bali bisa menghasilkan benih kerapu bebek 100 ribu – 150 ribu ekor (ukuran 5 cm), sementara untuk kerapu macan dapat menghasilkan benih antara 1,5 – 2,5 juta ekor per bulan.
Rahman menambahkan, untuk usaha pembesaran kerapu kerapu bebek biaya produksi sekitar Rp 125 ribu per ekor (rata-rata ukuran 500 gram). Artinya dengan harag kerapu bebek yang sampai Rp 500 ribu per kgnya, sudah bisa dihuting keuntungnya. “nilai impas untuk usaha pembesaran kerapu dapat dicapai dengan minimal SR 60 % saat panen,”katanya.

Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi Oktober 2010

One thought on “Produksi Benih Rendah, Tetap Untung

    limewire info said:
    23 November 2010 pukul 10:57 pm

    ah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s