Saling Sikut Persaingan Rumput Laut

Posted on Updated on

China terus buru rumput laut Indonesia sampai ke sentra-sentra budidaya. Eksportir rumput Indonesia masih terkendala hambatan tarif dengan China

Tak sekadar dihadapkan pada fakta turunnya produksi pada tahun ini, industri pengolahan rumput laut nasional juga harus mewaspadai ancaman persaingan bisnis dengan China. Bayangkan saja, sudah sejak lama Negeri Tirai Bambu ini nyaris menerima semua bahan baku (rumput laut kering) tanpa pandang bulu.
Mereka pun berani membayar mahal untuk itu, bahkan untuk rumput laut kering Indonesia dengan kualitas yang tidak masuk spesifikasi industri lokal! ”Ini bisa menghancurkan industri kita karena industri lokal mayoritas tidak berani membeli dengan harga beli China yang cukup tinggi,” kata Jana T Anggadiredja dari tim rumput laut Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) kepada TROBOS baru-baru ini di Jakarta.
Di sisi lain, berupaya membatasi produk olahan rumput laut yang akan masuk ke wilayahnya dengan memberlakukan tarif masuk tinggi disinyalir hingga 32%. Tingginya tarif masuk membuat produk olahan rumput laut Indonesia sulit masuki pasar China. ”Ini tidak fair karena tarif masuk bahan baku rumput laut justru dibuat rendah oleh China!” kata Ketua Umum Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) Safari Azis saat ditemui di Menara Kadin.
Tingginya tarif masuk produk olahan rumput laut ke China juga dikeluhkan Filipina sebagaimana penjelasan Ketua Asosiasi Industri Rumput Laut Filipina (SIAP/Seaweed Industry Association of the Philippines) Benson Dakay dalam The Philippine Star. Media ini memberitakan bahwa tarif masuk 32% atas produk olahan rumput laut itu terdiri atas 17% tarif aktual, 12% pajak pertambahan nilai dan ditambah berbagai biaya lainnya.
Kebijakan China ini sungguh ironis melihat kesepakatan perdagangan bebas antara China dan ASEAN—China-ASEAN Free Trade Agreement (CAFTA)—yang berlaku sejak awal 2010. Dengan CAFTA, tarif masuk berbagai komoditas perdagangan seharusnya menjadi 0%. Tapi faktanya, tak sedikit pelaku bisnis yang mengaku kesulitan menembus pasar China. Negeri itu justru merapatkan tirai bambunya demi membentengi dari produk-produk luar negeri yang bisa mereka buat sendiri, diantaranya olahan rumput laut.
Jana menilai, apa yang dilakukan China itu mirip sebuah tindakan proteksi. ”Mereka memang tidak gembar-gembor, melarang atau bahkan memproteksi secara terang-terangan. Tapi nyatanya itu dilakukan dan dirasakan oleh para eksportir kita,” ujarnya.
Sementara itu menyikapi tarif masuk yang tinggi, Safari menyebutkan, pihak SIAP kini tengah mendesak para negosiator perdagangannya untuk meyakinkan China agar menurunkan tarif BM. Upaya SIAP tersebut sampai saat ini belum membuahkan hasil.
Sedangkan di Indonesia, Safari telah melaporkan tingginya tarif masuk olahan rumput laut ini ke Kementerian Perdagangan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Tetapi masih belum ditemukan titik terang. Safari berharap agar China bisa berlaku adil. ”China boleh saja membeli rumput laut kering kita, karena industri kita belum mampu menyerap semuanya. China pun boleh menjual produk olahan rumput lautnya ke kita, ya begitu pula kita sebaliknya,” harapnya.

Tak Langgar CAFTA
Menanggapi kegelisahan para pelaku industri pengolahan rumput laut Indonesia tersebut, Saut P Hutagalung – Direktur Pemasaran Luar Negeri Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan KKP angkat bicara. Dia menggaris-bawahi bahwa tarif masuk ke China tetap 0%. ”Dan China tidak melanggar kesepakatan CAFTA,” tandasnya.

Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi Nopember 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s